MELURUSKAN PENYIMPANGAN AQIDAH
(Terkait Teori Rotasi dan Revolusi Bumi)
بسم الله الرحمن الرحيم
MUQODIMAH
الحمد لله الذي جعل الأرض قرارا والشمس سائرا يكور اليل على النهار ويكور النهار على الليل إن في ذلك لعبرة لمن كان في قلبه نورا
والصلاة والسلام علي رسول الله ارسله الله بشيرا ونذيرا
أما بعد،
Permasalahan aqidah merupakan
permasalahan yang sangat penting bagi seorang muslim. Aqidah yang shohih
ibarat sebuah pondasi dan termasuk syarat yang menentukan diterima atau
tidaknya amalan seseorang.Tidaklah Alloh-ta’ala-menolak amalan orang-orang musyrik melainkan karena amalan mereka tidak dibangun diatas aqidah yang benar.
Alloh-ta’ala- berfirman:
وَمَا مَنَعَهُمْ أَنْ تُقْبَلَ مِنْهُمْ
نَفَقَاتُهُمْ إِلَّا أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِالله وَبِرَسُولِهِ وَلَا
يَأْتُونَ الصَّلَاةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَى وَلَا يُنْفِقُونَ إِلَّا
وَهُمْ كَارِهُونَ
“Tidak ada yang menghalangi mereka untuk
diterima dari mereka nafkah-nafkah mereka, melainkan karena mereka
kafir kepada Alloh dan Rasul-Nya dan mereka tidak melaksanakan sholat,
melainkan dalam keadaan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta)
mereka, melainkan dalam keadaan terpaksa”. (QS. At-Taubah:54)
Oleh karena itu, para nabi dan rosul memulai dakwah mereka dengan permasalahan tauhid.
Alloh-ta’ala- berfirman:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوت
“Sesungguhnya Kami telah mengutus pada tiap-tiap umat seorang rosul,supaya mereka beribadah kepada Alloh dan menjauhi thoghut (sesembahan selain Alloh)”. (QS. An-Nahl: 36)
Tatkala Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam- mengutus Muadz –rodhiyallohu’anhu- ke Yaman, beliau mengatakan:
إِنَّكَ تَقْدَمُ عَلَى قَوْمٍ أَهْلِ كِتَابٍ فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ عِبَادَةُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ
“Sesungguhnya kamu akan mendatangi ahli
kitab, maka jadikanlah awal kali yang kamu seru mereka kepadanya agar
mereka beribadah kepada Alloh -‘azza wa jalla. (HR. Bukhori dan Muslim)
Disebutkan dalam hadits Robi’ah bin ‘Abbad -rodhiyallohu’anhu-, beliau mengatakan:
رأيت رسول الله صلى الله عليه و سلم بصر
عيني بسوق ذي المجاز يقول: يا أيها الناس قولوا لا إله إلا الله تفلحوا.
ويدخل فيفجاجها والناس متقصفون عليه. فما رأيت أحدا يقول شيئا وهو لا يسكت
يقول: أيها الناس قولوا لا إله إلا الله تفلحوا، إلا أن وراءه رجلا أحول
وضيء الوجه ذا غديرتين يقول:إنه صابئ كاذب. فقلت: من هذا؟ قالوا: محمد بن
عبد الله وهو يذكر النبوة. قلت:من هذا الذي يكذبه. قالوا: عمه أبو لهب.
“Saya melihat Rosululloh –shollallohu’alaihi wa sallam- di pasar Dzil Mijaz mengatakan: “Wahai manusia katakanlah la ilaha illalloh maka
kalian akan beruntung”. Beliau masuk di jalan-jalan, sedang saya tidak
melihat seorangpun yang mengucapkan sesuatu dan Rosululloh –shollallohu’alaihi wa sallam-tidak diam. Beliau mengatakan: “Wahai manusia katakanlah,“Laa ilaha illalloh,”maka
kalian akan beruntung”. Hanya saja di belakangnya ada seseorang yang
juling, tampan rupanya dan mempunyai dua buah kucir mengatakan:
“Sesungguhnya dia ini telah keluar dari agamanya lagi pendusta”.
Maka aku bertanya: “Siapa orang ini?”
Mereka menjawab: “Muhammad bin Abdillah dan ia menyebutkan (mengaku)
tentang kenabian”. Aku bertanya lagi: “Siapa orang yang di belakangnya?”
Mereka menjawab:”Pamannya, Abu Lahab”.
(Hadits shohih riwayat Ahmad: 3/492,dishohihkan oleh Imam Al-Wadi’iy -rohimahulloh- dalam kitabnya As-Shohihul Musnad, no.333)
Kalau kita melihat dakwah Rosululloh
-shollallohu ‘alaihi wasallam- di Makkah selama sepuluh tahun, beliau
mengajak kaumnya untuk mentauhidkan Alloh dan meninggalkan kesyirikan.
Hal ini tidak lain adalah untuk membangun pondasi yang sangat penting
ini. Kemudian setelah beliau hijroh ke Madinah, barulah turun berbagai
macam syariat dari Alloh –subhanahu wa ta’ala-.
Hal ini menunjukkan akan pentingnya
permasalahan aqidah, dan di dalamnya juga terdapat pelajaran yang sangat
penting bagi para da’i agar mereka memulai dakwah mereka dengan
permasalahan tauhid, tidak seperti kebanyakan kelompok-kelompok yang
memulai dakwah mereka dengan perkara akhlak,jihad, atau dengan
menegakkan daulah Islamiyyah menurut prasangka mereka, oleh karena itu
kita melihat dakwah mereka tidaklah membuahkan hasil yang bermanfaat
untuk islam dan kaum muslimin.
Maka permasalahan tauhid merupakan
kewajiban pertama dan terakhir sebelum kita keluar dari dunia. Siapa
yang meninggal diatas tauhid, maka kita mengharapkan baginya kebaikan.
Ibnu Abil ‘Izz-rohimahulloh-berkata:
فَالتَّوْحِيدُ أَوَّلُ مَا يُدْخِلُ فِي
الْإِسْلَامِ، وَآخِرُ مَا يُخْرَجُ بِهِ مِنَ الدُّنْيَا، كَمَا قَالَ
النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ
لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ». وَهُوَ أَوَّلُ وَاجِبٍ
وَآخِرُ وَاجِبٍ.فَالتَّوْحِيدُ أَوَّلُ الْأَمْرِ وَآخِرُهُ، أَعْنِي
تَوْحِيدَ الْإِلَهِيَّةِ.
“Tauhid merupakan hal pertama yang
memasukkan seseorang ke dalam Islam dan kewajiban terakhir yang
mengeluarkan seseorang dari dunia, sebagaimana sabda Rosululloh –shollallohu’alaihi wa sallam-:”Siapa yang akhir perkataannya,“Laa ilaha illalloh,”
maka ia akan masuk surga”. Maka tauhid adalah kewajiban pertama dan
terakhir”. Maksudku adalah tauhid uluhiyyah (mengesakan Alloh dalam
peribadahan)”. (Syarh Aqidah Thohawiyyah)
Imam Al-Bukhoriy-rohimahulloh- mengisyaratkan akan hal ini dalam kitab shohihnya, yang memulai kitabnya dengan kitabBad’ul wahyi, kitab Al-Imandan diakhiri dengan Kitab At-Tauhid dan diikuti oleh Asy-Syaikhul Muhadits Muqbil bin Hadiy-rohimahulloh-dalam kitabnya Al-Jami’ Ash-Shohih.
Tidaklah samar bagi kita bagaimana juhud (kesungguhan)
para ulama dalam menyebarkan tauhid kepada kaum muslimin. Mereka
mengorbankan jiwa dan raga dalam dakwah kepada tauhid ini, baik dakwah
dengan lisan maupun tulisan. Juga sangat banyak kitab-kitab para ulama
yang menjelaskan akan permasalahan ini dan juga bantahan-bantahan mereka
dalam rangka memperingatkan umat dari rusaknya aqidah yang banyak
tersebar dikalangan kaum muslimin. Sikap para ulama tersebut juga sangat
keras terhadap orang-orang yang menyelisihi aqidah yang benar serta
siapa saja yang berusaha untuk merusak kaum muslimin dengan menyebarkan
aqidah-aqidah sesat.
Hal itu seperti yang dilakukan Umar bin Khottob-rodhiyallohu’anhu- terhadap Shobigh, kisah penyembelihan Ja’d bin Dirham oleh Kholid Al-Qosry dan pernyataan baro’ (berlepas diri) Abdulloh bin Umar-rodhiyallohu’anhu- terhadap kelompok Qodariyah.
Ini merupakan secuplik contoh akan kerasnya sikap para ulama terhadap
orang-orang yang mempunyai aqidah yang rusak dan ingin menyebarkannya
dikalangan kaum muslimin. Dengan hal ini, maka terjagalah aqidah kaum
muslimin dari berbagai macam penyimpangan yang merusak aqidah mereka.
Kemudian, setelah berlalunya zaman
generasi terbaik dan berkurangnya para ulama, maka semakin banyak
dai-dai (para penyeru) kesesatan yang mengajak kepada pintu-pintu
Jahannam. Siapa yang mengikutinya akan dicampakkan kedalamnya. Maka
tersebarlah berbagai macam penyimpangan dalam permasalahan aqidah,
sehingga kita mendapati kebanyakan kaum muslimin terdidik dengan aqidah
yang salah dan tumbuh diatasnya.Wallohul Musta’an.
Salah satu dari keyakinan yang tersebar
di kalangan kaum muslimin dan diajarkan kepada anak-anak kaum muslimin
di sekolah-sekolah mereka adalah keyakinan bahwasanya bumi itu bergerak
mengelilingi matahari dan matahari diam tak bergerak. Manakala keyakinan
ini menyelisihi nash dari Al-Qur’an, As-Sunnah dan Al-Ijma’, maka kami
ingin menjelaskan akan batilnya keyakinan ini dengan menukil perkataan
para ulama yang telah mendahului kita dalam menjelaskan hal ini dan juga
karena adanya permintaan dari sebagian ikhwan.Mudah-mudahan Alloh
membalas kebaikan para ulama kita yang telah menjelaskan hal ini dan
memperingatkan umat darinya. Tidaklah ada suatu kemungkaran, melainkan
kita dapati para ulama telah mengingkarinya dan kita mendapatkan pula
kitab-kitab yang mereka tulis untuk menjelaskan penyimpangan tersebut. Jazahumullohukhoiron.
SIAPA PENCETUS KEYAKINAN INI
Mahmud Syukry Al-Alusiy berkata: “Telah
tersebar di zaman kita ini perkataan Phythagore -seorang filosof
terkenal dalam bidang Astronomi- dan diikuti oleh para ahli filsafat
belakangan setelah pemikiran ini ditinggalkan, yaitu pendapat yang
mengatakan tentang adanya pergerakan bumi harian (rotasi) dan tahunan
(revolusi) mengelilingi matahari, dan bahwasanya matahari itu adalah
pusat pergerakan (tata surya). Bumi adalah salah satu bintang yang
beredar di orbitnya. Tidak seperti yang dikatakan oleh Ptolemee”.
Kemudian, Muhammad Zuhair Asy-Syawisy memberikan ta’liq (komentar)
terhadap kalam (ucapan) diatas dengan mengatakan: “Phythagore adalah
seorang hakim Yunani yang terkenal. Para pengikutnya dinamakan
Phytagoriyyin sebagai bentuk penisbatan kepadanya. Mereka mempunyai
pendapat bahwa bumi adalah sebuah bintang dari bintang-bintang yang
berputar di sekitar pusat api. Dengan pemikiran ini, mereka menyelisihi
pemikiran yang tersebar di zaman mereka bahwasanya bumi adalah pusat
alam semesta. Phythagore dilahirkan di pulau Samus dan mati di pulau itu
juga sekitar tahun 600 SM.
Ptolemee adalah salah satu pakar Astronomi, sejarah dan geografi. Dia adalah pemilik kitab Majusti yang terkenal. Yang mempunyai pemikiran ptolemeesiyah
yang mengatakan bahwasanya bumi itu tetap dan planet berputar di
sekitarnya dan itu adalah pemikiran yang diisyaratkan oleh pengarang”.
(Risalah: Maa Dalla ‘Alaihil Qur’an Mimmaa Ya’dhidu Al-Haiatul Jadiidah Al-Qodiimatul Burhan, karya Mahmud Syukri Al-Alusy, cet. Al-Maktabul Islami)
Syaikh Abu ‘Amr Al-Hajuriy –hafidhohulloh-berkata:
“Telah nampak pemikiran Yunani yang diucapkan oleh salah seorang ahli
filsafat yang bernama Phytagoras Al-Yunaniy- sebelum dilahirkannya Al-Masih (Nabi
Isa) kurang lebih lima ratus tahun dan ada yang mengatakan enam ratus
tahun- bahwasanya bumi termasuk bintang-bintang yang beredar
mengelilingi matahari. Pemikiran ini ditinggalkan semasa itu dalam waktu
yang lama karena tidak diterima oleh akal dan kenyataan, sampai
munculnya seorang ahli falak (astronom) Yunani yang bernama Choopernight dari abad ke-10 Hijriyah dan menampakkan pemikiran Phytagoras. Kemudian pada abad ke-12 hijriyah, muncul Herchil dan para pengikutnya dari para ahli filsafat Paronji dan menguatkan pemikiran phytagoras.
Awalnya pemikiran ini tidak diterima
oleh seorang pun dari kaum muslimin. Kemudian, muncullah orang-orang
sesat dari kaum muslimin mengambil pemikiran ini dan mempopulerkannya di
antara kaum muslimin dengan menampakkan bahwa pemikiran ini adalah
bagian dari agama!!! (Risalah: An-Narjis bi Qorooril Ardh wa Jaroyaanis Syams, hal.11, cet. Maktabah Ibnu Sirin)
Dari hal di atas dapat kami simpulkan beberapa poin sebagai berikut:
Pencetus pemikiran ini adalah seorang ahli filsafat Yunani yang kafir.
Bahwasanya mereka sendiri telah berselisih pendapat dalam permasalahan ini.
SUMBER PENGAMBILAN AQIDAH ADALAH KITAB DAN SUNNAH SESUAI DENGAN PEMAHAMAN SALAFUL UMMAH
Alloh -subhanahu wa ta’ala– berfirman:
اتَّبِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ
“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu
dari Robbmu dan janganlah kamu mengikuti wali-wali selain-Nya, sangat
sedikit di antara kalian yang mengambil pelajaran (darinya)”.
(QS.Al-A’rof:3)
Alloh -subhanahu wa ta’ala– berfirman:
أَوَلَمْ يَكْفِهِمْ أَنَّا أَنْزَلْنَا
عَلَيْكَ الْكِتَابَ يُتْلَى عَلَيْهِمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَرَحْمَةً
وَذِكْرَى لِقَوْمٍ يُؤْمِنُون [العنكبوت : 51]
“Apakah tidak cukup bagi mereka
bahwasanya Kami telah menurunkan kepada-Mu Al-Kitab (Al-Quran) yang
dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya dalam (Al-Quran) itu terdapat
rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman”.
(QS.Al-’Ankabut:51)
أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ
“Apakah hukum jahiliyah yang mereka
inginkan? dan (hukum) siapakah yang lebih baik dari (hukum) Alloh bagi
orang-orang yang yakin?” (QS.Al-Maidah:50)
Rosululloh-sholallohu’alaihi wasallam-bersabda:
أمَّا بَعْدُ أَلاَ أَيُّهَا النَّاسُ
فَإِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ يُوشِكُ أَنْ يَأْتِىَ رَسُولُ رَبِّى فَأُجِيبَ
وَأَنَا تَارِكٌ فِيكُمْ ثَقَلَيْنِ أَوَّلُهُمَا كِتَابُ اللهِ فِيهِ
الْهُدَى وَالنُّورُ فَخُذُوا بِكِتَابِ اللهِ وَاسْتَمْسِكُوا بِهِ
“Amma ba’du; wahai manusia, sesungguhnya
aku hanyalah seorang manusia. Dikhawatirkan akan datang utusan Robbku
kemudian aku menjawabnya (yakni kematian) dan aku tinggalkan untuk
kalian dua perkara, salah satunya adalah kitabulloh di dalamnya
terdapat petunjuk dan cahaya. Maka ambillah kitabulloh dan berpegang
teguhlah dengannya”.
وفي رواية: مَنِ اسْتَمْسَكَ بِهِ وَأَخَذَ بِهِ كَانَ عَلَى الْهُدَى وَمَنْ أَخْطَأَهُ ضَلَّ
Dalam satu riwayat: “Siapa yang
berpegang teguh dengannya dan mengambilnya, maka ia berada diatas
petunjuk dan siapa yang berlepas darinya dia akan sesat”. (HR.Muslim,
no. 2408 dari Zaid bin Arqom –rodhiyallohu’anhu-)
Rosululloh–shollallohu ‘alaihi wa sallam-juga bersabda:
لقد تركتكم علي البيضاء ليلها كنهارها لا يزيغ عنها إلا هالك
“Sungguh aku telah meninggalkan kalian
di atas sesuatu yang putih; malamnya sama seperti siangnya, tidak
menyimpang darinya kecuali seorang yang binasa”. (Hadits hasan riwayat
Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah).
تركت فيكم أمرين لن تضلوا ما تمسكتم بهما : كتاب الله وسنة رسوله
“Aku tinggalkan pada kalian dua perkara
yang kalian tidak akan tersesat selama kalian berpegang teguh dengannya;
Kitabulloh dan Sunnah Rosul-Nya” (Diriwayatkan oleh Imam Malik –rohimahulloh- dalam kitab Al-Muwatho’ dan dihasankan oleh Syaikh Albani dalam Al-Misykah no.186)’
Dari dalil-dalil diatas, menunjukkan
bahwa sumber pengambilan aqidah adalah dari Al-Qur’an dan As-Sunnah
sesuai dengan pemahaman ulama salaf. Siapa yang menyangka bahwa dia akan
mendapatkan petunjuk dan kebenaran dari selain keduanya, maka dia telah
tersesat dan mendapatkan kerugian.
Mengapa harus sesuai dengan pemahaman para ulama salaf?
Sebab mereka adalah orang-orang yang telah dipuji oleh Alloh-subhanahu wa ta’ala-dalam firman-Nya:
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ
الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ
رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي
تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ
الْعَظِيمُ
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang
pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshor serta
orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Alloh ridha kepada mereka
dan mereka pun ridha kepada Alloh.Alloh menyediakan bagi mereka
surga-surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai. Mereka kekal
didalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar”.
(QS.Al-Maidah:100)
Merekalah orang-orang yang berpegang
teguh dengan Al-Qur’an dan Sunnah, dan mengamalkan Islam ini sesuai
dengan apa yang mereka pahami dari Rosululloh-shollallohu ‘alaihi wasallam-
sampai hari ini. Mereka sangat jauh dari berbagai macam penyimpangan
yang diada-adakan dalam agama ini sehingga kemurnian agama mereka akan
terus terjaga sampai dekatnya hari kiamat.
Rosululloh –shollallohu’alaihi wa sallam –bersabda :
لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِى
ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى
يَأْتِىَ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ كَذَلِكَ
“Akan terus-menerus ada sekelompok dari
umatku yang menampakkan kebenaran tidak akan membahayakan mereka
orang-orang yang memusuhi mereka sampai datangnya perintah Alloh (hari
kiamat), sedang mereka diatas kebenaran”. (HR.Muslim no.5059 dari
Tsauban -rodhiyallohu’anhu-).
DALIL-DALIL DARI AL-QUR’AN DAN AS-SUNNAH YANG MENUNJUKKAN AKAN TETAPNYA BUMI DAN BERJALANNYA MATAHARI MENGELILINGI BUMI
Alloh –ta’ala-berfirman:
وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَهَا ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ
“Matahari berjalan ditempat
peredarannya. Demikianlah ketetapan Al-’Aziz (yang Maha Perkasa) dan
Al-’Alim(lagi Maha Mengetahui)”. (QS.Yasin:38)
Syaikh Ibnu ‘Utsaimin –rohimahulloh-
mengatakan ketika menafsirkan ayat ini: “Sebagian faedah dari ayat ini
adalah: bahwasanya matahari itu berjalan dan ini adalah suatu kenyataan
serta zhohir dari Al-Qur’an dan bahwa berjalannya adalah secara dzatnya,
bukanlah yang dimaksud dengan berputar itu adalah bumi. Merupakan suatu
kewajiban untuk membiarkan Al-Quran sesuai zhohirnya sampai tegak
sebuah dalil yang jelas serta bisa dijadikan hujjah bagi kita di hadapan
Alloh-’azza wa jalla-untuk keluar dari zhohirnya, sebab yang
berbicara dengan Al-Qur’an adalah Alloh Al-Kholiq (sang pencipta).
Dialah yang mengetahui keadaan makhluk-Nya. Apabila Dia mengatakan bahwa
matahari berjalan, maka wajib bagi kita untuk mengatakan bahwa matahari
berjalan dan tidak boleh bagi kita untuk mengatakan kita yang
berjalan”. (At-Tafsir Ats-Tsamin)
Alloh –ta’ala-berfirman:
اللهُ الَّذِي رَفَعَ السَّمَاوَاتِ
بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ وَسَخَّرَ
الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى يُدَبِّرُ
الْأَمْرَ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ بِلِقَاءِ رَبِّكُمْ تُوقِنُون
“Alloh-lah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia beristiwa’ (meninggi) di atas ‘arsy
dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu
yang ditentukan. Alloh mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan
tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuanmu dengan
Robb-mu”. (QS.Ar-Ro’d:2)
Alloh –ta’ala-berfirman:
وَسَخَّرَ لَكُمُ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ دَائِبَيْن
“Dia telah menundukkan (pula) bagimu
matahari dan bulan yang terus-menerus beredar (dalam orbitnya) dan
menundukkan bagimu malam dan siang”. (QS.Ibrohim:33)
Ibnu Katsir-rohimahulloh- berkata: “Yakni keduanya berjalan dan tidak tetap, baik di waktu siang maupun malam”.
Alloh –ta’ala-berfirman:
الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍ
“Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan”. (QS.Ar-Rohman:5)
Ibnu Katsir-rohimahulloh- berkata: “Yakni keduanya berjalan silih berganti dengan perhitungan yang teliti tanpa berselisih dan tanpa adanya kegoncangan”.
Alloh-ta’ala-berfirman:
أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللهَ يُولِجُ
اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَيُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَسَخَّرَ
الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى وَأَنَّ اللهَ
بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
“Tidakkah kamu memperhatikan, bahwa
sesungguhnya Alloh memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang
ke dalam malam dan Dia tundukkan matahari dan bulan masing-masing
berjalan sampai kepada waktu yang ditentukan. Sesungguhnya Alloh Maha
Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS.Luqman:29)
Alloh-ta’ala-berfirman:
وَتَرَى الشَّمْسَ إِذَا طَلَعَتْ
تَزَاوَرُ عَنْ كَهْفِهِمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَإِذَا غَرَبَتْ تَقْرِضُهُمْ
ذَاتَ الشِّمَالِ وَهُمْ فِي فَجْوَةٍ مِنْهُ ذَلِكَ مِنْ آيَاتِ اللهِ
مَنْ يَهْدِ اللهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ
وَلِيًّا مُرْشِدًا
“Kamu melihat matahari ketika terbit,
condong dari gua mereka ke sebelah kanan. Bila matahari terbenam,
menjauhi mereka ke sebelah kiri, sedang mereka berada dalam tempat yang
luas dalam gua itu.Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran)
Alloh. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Alloh, maka dialah yang
mendapat petunjuk dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak
akan mendapatkan seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk
kepadanya”. (QS.Al-Kahfi:17)
Syaikh Ibnu ‘Utsaimin –rohimahulloh– berkata:
“Dari kalimat, “… apabila matahari terbenam, maka matahari tersebut
menjauhi mereka ke sebelah kiri,” menunjukkan bahwasanya mataharilah
yang bergerak dan dengan pergerakannya tersebut, terjadilah terbit dan
tenggelam berbeda dengan apa yang diucapkan oleh sebagian manusia di
zaman sekarang yang mengatakan bahwa yang berputar adalah bumi,
sementara keadaan matahari, maka ia tetap diam.
Adapun diri kami, maka kami mempunyai bukti dari kalamulloh
yang wajib bagi kita untuk memahaminya sesuai dhohirnya dan supaya
tidak goncang dari dhohir ini, kecuali dengan dalil yang jelas … sebab
Alloh menisbatkan semua perbuatan, berupa terbit dan tenggelam kepada
Matahari … dan kita mengetahui dengan ilmu yakin bahwa Alloh lebih tahu
dengan makhluk-Nya dan kita tidak akan menerima sebuah pemikiran baru
dan persangkaan. (At-Tafsir At-Tsamin)
Alloh-ta’ala-berfirman:
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِي حَاجَّ
إِبْرَاهِيمَ فِي رَبِّهِ أَنْ آتَاهُ اللهُ الْمُلْكَ إِذْ قَالَ
إِبْرَاهِيمُ رَبِّيَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ قَالَ أَنَا أُحْيِي
وَأُمِيتُ قَالَ إِبْرَاهِيمُ فَإِنَّ اللهَ يَأْتِي بِالشَّمْسِ مِنَ
الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ الْمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ
وَاللهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
“Apakah kamu tidak memperhatikan orang
yang mendebat Ibrahim tentang Robb-nya, karena Alloh telah memberikan
kepada orang itu kekuasaan. Ketika Ibrahim mengatakan: “Robb-ku itulah
yang menghidupkan dan mematikan,” orang itu berkata: “Aku dapat
menghidupkan dan mematikan”. Ibrahim berkata: “Sesungguhnya Alloh
menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat!” Lalu
terdiamlah orang kafir itu dan Alloh tidak memberi petunjuk kepada
orang-orang yang dholim”. (QS.Al-Baqoroh:258)
Syaikh Ibnu ‘Utsaimin –rohimahulloh–
berkata: “Dalam ayat ini terdapat bantahan terhadap para ahli Astronom
yang mengatakan bahwa datangnya matahari bukanlah dengan dzatnya, akan
tetapi bumilah yang berputar sampai ia sendiri yang mendatangi matahari.
Sisi bantahannya adalah dari perkataan Nabi Ibrohim-‘alaihissalam-
yang maknanya, “Sesungguhnya Alloh mendatangkan matahari dari arah
timur, maka datangkanlah ia dari arah barat,”… sedang mereka mengatakan,
“Sesungguhnya Alloh tidak mendatangkan ia dari arah timur, akan tetapi
dengan perputarannya, sehingga matahari yang terbit kepadanya” … wajib
bagi kita untuk mengambil perkara ini sesuai dengan dhohir Al-Qur’an dan
tidak berpaling terhadap ucapan siapapun yang menyelisihi dhohir
Al-Qur’an tersebut. Hal itu karena kita beribadah sesuai apa yang
ditunjukkan dalam Al-Qur’an. Dari sisi lain Alloh –ta’ala-lebih
mengetahui dengan apa yang Ia ciptakan.
Alloh –ta’ala– berfirman:
أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِير
“Apakah Alloh yang menciptakan itu tidak
mengetahui (yang kamu lahirkan atau rahasiakan), sedangkanDia itu
Al-Lathif lagi Al-Khobir (Maha Mengetahui)?”(QS.Al-Mulk:14)
Bersamaan dengan itu, para ahli falak
terdahulu dan sekarang telah berselisih dalam permasalahan ini dan tidak
bersepakat bahwa dengan perputaran bumilah sebab terjadinya siang dan
malam.
Kita katakan: walaupun seluruh ahli
falak semuanya bersepakat dalam hal ini, kami tidaklah akan berpaling
dari dhohir Al-Qur’an. (At-Tafsir At-Tsamin 2/286)
Rosululloh –shollalohu’alaihi wa sallam-bersabda :
غَزَا نَبِىٌّ مِنَ الأَنْبِيَاءِ فَقَالَ
لِقَوْمِهِ لاَ يَتْبَعْنِى رَجُلٌ قَدْ مَلَكَ بُضْعَ امْرَأَةٍ وَهُوَ
يُرِيدُ أَنْ يَبْنِىَ بِهَا وَلَمَّا يَبْنِ وَلاَ آخَرُ قَدْ بَنَى
بُنْيَانًا وَلَمَّا يَرْفَعْ سُقُفَهَا وَلاَ آخَرُ قَدِ اشْتَرَى غَنَمًا
أَوْ خَلِفَاتٍ وَهُوَ مُنْتَظِرٌ وِلاَدَهَا. قَالَ فَغَزَا فَأَدْنَى
لِلْقَرْيَةِ حِينَ صَلاَةِ الْعَصْرِ أَوْ قَرِيبًا مِنْ ذَلِكَ فَقَالَ
لِلشَّمْسِ أَنْتِ مَأْمُورَةٌ وَأَنَا مَأْمُورٌ اللَّهُمَّ احْبِسْهَا
عَلَىَّ شَيْئًا.فَحُبِسَتْ عَلَيْهِ حَتَّى فَتَحَ اللهُ عَلَيْهِ -
“Salah seorang nabi terdahulu melakukan
peperangan, maka ia berkata kepada kaumnya,”Janganlah mengikutiku
seseorang yang telah memiliki perempuan dan dia ingin menggaulinya,
tidak pula seseorang yang telah membangun rumah, sedangkan ia belum
menaikkan atapnya dan tidak pula seorang yang telah membeli seekor
kambing bunting, sedangkan ia sedang menunggu kelahiran anaknya!”Maka
nabi itu pun berangkat berperang. Ia pun mendekati suatu kampung yang
ingin diperanginya ketika mau masuk sholat Ashar. Maka ia berkata kepada
matahari, “Sesungguhnya kamu diperintah dan aku pun diperintah”. (Lalu
ia berdoa), “Ya Alloh tahanlah ia untukku”. Maka matahari itu pun
ditahan oleh Alloh, sampai Alloh memberikan kepada nabi itu kemenangan”.
(HR.Bukhory, no.3124 dan Muslim no.1747)
Sisi pendalilannya, hadits ini
menunjukkan bahwa matahari itu berjalan, karena nabi tersebut meminta
kepada Alloh untuk menahan jalannya matahari tersebut, agar jangan
tenggelam dahulu sampai ia menyelesaikan peperangan. Kalaulah matahari
itu diam dan bumilah yang berjalan, maka mengapa nabi tersebut harus
meminta matahari untuk ditahan perjalanannya dan tidak meminta bumi saja
yang ditahan?!
Rosululloh –shollalohu’alaihi wa sallam-pada suatu hari pernah bertanya:
أَتَدْرُونَ أَيْنَ تَذْهَبُ هَذِهِ
الشَّمْسُ؟ قَالُوا:اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ إِنَّ هَذِهِ
تَجْرِى حَتَّى تَنْتَهِىَ إِلَى مُسْتَقَرِّهَا تَحْتَ الْعَرْشِ
فَتَخِرُّ سَاجِدَةً وَلاَ تَزَالُ كَذَلِكَ حَتَّى يُقَالَ لَهَا
ارْتَفِعِى ارْجِعِى مِنْ حَيْثُ جِئْتِ فَتَرْجِعُ فَتُصْبِحُ طَالِعَةً
مِنْ مَطْلِعِهَا ثُمَّ تَجْرِى حَتَّى تَنْتَهِىَ إِلَى مُسْتَقَرِّهَا
تَحْتَ الْعَرْشِ فَتَخِرُّ سَاجِدَةً وَلاَ تَزَالُ كَذَلِكَ حَتَّى
يُقَالَ لَهَا ارْتَفِعِى ارْجِعِى مِنْ حَيْثُ جِئْتِ فَتَرْجِعُ
فَتُصْبِحُ طَالِعَةً مِنْ مَطْلِعِهَا ثُمَّ تَجْرِى لاَ يَسْتَنْكِرُ
النَّاسُ مِنْهَا شَيْئًا حَتَّى تَنْتَهِىَ إِلَى مُسْتَقَرِّهَا ذَاكَ
تَحْتَ الْعَرْشِ فَيُقَالُ لَهَا ارْتَفِعِى أَصْبِحِى طَالِعَةً مِنْ
مَغْرِبِكِ فَتُصْبِحُ طَالِعَةً مِنْ مَغْرِبِهَا. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ
-صلى الله عليه وسلم- أَتَدْرُونَ مَتَى ذَاكُمْ ذَاكَ حِينَ لاَ يَنْفَعُ
نَفْسًا إِيمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِى
إِيمَانِهَا خَيْرًا
“Tahukah kalian, kemana perginya
matahari itu (ketika terbenam)?” Mereka menjawab, “Alloh dan Rosul-Nya
lebih mengetahuinya”. Rosululloh-shollallohu ‘alaihi wasallam-menjawab,
“Sesungguhnya matahari ituberjalan sampai ke porosya di bawah arsy.
Kemudian ia pun bersujud. Hal itu ia lakukan secara terus-menerus sampai
diperintahkan kepadanya, “Bangkitlah kamu, kembalilah dari arah kamu
datang!” Maka ia pun kembali terbit dari arah biasanya ia terbit
darinya. Sampai dikatakan (diperintahkan) kepadanya, “Bangkitlah kamu
dan terbitlah kamu dari arah barat!” Maka iapun terbit dari arah barat.
Tahukah kalian, kapan hal itu terjadi? Hal itu terjadi tatkala tidak
bermanfaat lagi keimanan terhadap jiwa seorang, dikarenakan ia tidak
beriman sebelumnya atau berbuat kebaikan untuk keimanannya”. (HR.
Bukhori, no.7424 dan Muslim, no.159)
DALIL-DALIL AKAN TETAPNYA BUMI
Alloh –subhanahu wa ta’ala-berfirman:
أَمَّنْ جَعَلَ الْأَرْضَ قَرَارًا
وَجَعَلَ خِلَالَهَا أَنْهَارًا وَجَعَلَ لَهَا رَوَاسِيَ وَجَعَلَ بَيْنَ
الْبَحْرَيْنِ حَاجِزًا أَإِلَهٌ مَعَ اللهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا
يَعْلَمُونَ
“Siapakah yang telah menjadikan bumi
sebagai tempat berdiam, menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya,
menjadikan gunung-gunung untuk (mengkokohkan)nya serta menjadikan suatu
pemisah antara dua laut. Apakah ada sesembahan yang benar selain Alloh?!
Bahkan (sebenarnya) kebanyakan dari mereka tidak mengetahui”.
(QS.An-Naml: 61)
Ibnu Katsir-rohimahulloh-berkata:
“قرارا” yakni (bumi itu) tetap, tenang tidak condong, tidak bergerak,
tidak goncang. Hal itu karena seandainya tidak demikian, maka tidaklah
nyaman untuk hidup diatasnya. Bahkan Alloh menjadikannya hamparan yang
tetap (sepanjang mata memandang), tidak goncang dan tidak bergerak
sebagaimana hal itu disebutkan dalam ayat yang lain.
اللهُ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ قَرَارًا
“Alloh-lah yang menjadikan bumi bagi kamu tempat menetap” (QS.Ghofir:64)
Alloh –subhanahu wa ta’ala-berfirman:
الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا
وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ
مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلَا تَجْعَلُوا لِلهِ أَنْدَادًا
وَأَنْتُمْ تَعْلَمُون
“Dialah yang menjadikan bumi sebagai
hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan dia menurunkan air (hujan)
dari langit. Lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan
sebagai rezki untukmu. Karena itu janganlah kamu menjadikan
sekutu-sekutu bagi Alloh, padahal kamu mengetahuinya”.
(QS.Al-Baqoroh:22)
Alloh –subhanahu wa ta’ala-berfirman:
فَأَزَلَّهُمَا الشَّيْطَانُ عَنْهَا
فَأَخْرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيهِ وَقُلْنَا اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ
لِبَعْضٍ عَدُوٌّ وَلَكُمْ فِي الْأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَى
حِينٍ
“Lalu keduanya digelincirkan oleh
syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami
berfirman: “Turunlah kamu, sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain
dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi serta kesenangan hidup sampai
waktu yang ditentukan”. (QS. Al-Baqoroh:36)
Alloh –subhanahu wa ta’ala-berfirman:
إِنَّ اللهَ يُمْسِكُ السَّمَاوَاتِ
وَالْأَرْضَ أَنْ تَزُولَا وَلَئِنْ زَالَتَا إِنْ أَمْسَكَهُمَا مِنْ
أَحَدٍ مِنْ بَعْدِهِ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا
“Sesungguhnya Alloh menahan langit dan
bumi supaya jangan lenyap.Sungguh, jika keduanya lenyap, maka tidak ada
seorangpun yang dapat menahan keduanya selain Alloh.Sesungguhnya Dia
adalah halim (Maha Penyantun) lagi Ghofur (Maha Pengampun)”. (QS.
Fathir: 41)
5 Alloh –subhanahu wa ta’ala-berfirman:
وَجَعَلْنَا فِي الْأَرْضِ رَوَاسِيَ أَنْ تَمِيدَ بِهِمْ وَجَعَلْنَا فِيهَا فِجَاجًا سُبُلًا لَعَلَّهُمْ يَهْتَدُونَ
“Telah Kami jadikan di bumi ini
gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama
mereka.Telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas, agar
mereka mendapat petunjuk”. (QS.Al-Anbiya:31)
Lanjut...? kelik disini...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar