SELAMAT DATANG DI WEBSITENYA SDN 2 DASAN TERENG
Logo Design by FlamingText.com
Logo Design by FlamingText.com

KESEPAKATAN KAUM MUSLIMIN DALAM PERMASALAHAN INI

 

Abdul Qodir Al-Baghdadiy –rohimahulloh- mengatakan: “Mereka (ulama kaum muslimin) bersepakat akan tetapnya bumi. Adapun pergerakannya terjadi karena adanya sesuatu yang muncul, seperti adanya gempa bumi dan yang semisalnya”. (Al-Firoq Bainal Firoq,hal.318)

Imam Al-Qurthuby –rohimahulloh- berkata: “Yang diyakini oleh kaum muslimin dan Ahli Kitab (Yahudi & Nashrani) bahwa bumi itu tetap diam, tak berjalan dan dihamparkan. Adapun pergerakannya biasanya disebabkan adanya gempa bumi”.

Imam At-Tuwaijiry –rohimahulloh- berkata: “Hal ini sangat jelas untuk menyatakan ijma’ dari kaum muslimin dan ahli kitab akan tetapnya bumi”. (As-Showa’iqus Syadidah,hal. 54)

 

WAJIBNYA MENERIMA DAN BERIMAN DENGAN BERITA ALLOH DAN ROSULNYA

Alloh –ta’ala- berfirman:

 

وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللهِ قِيلًا

 

“Siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Alloh?!” (QS.An-Nisa:122)

 

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

 

“Tidaklah pantas bagi seorang mukmin dan mukminah, apabila Alloh dan Rosul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, masih ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Barangsiapa mendurhakai Alloh dan Rosul-Nya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dengan kesesatan yang nyata”. (QS.Al-Ahzab:36)

 

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

 

“Sesungguhnya perkataan orang-orang yang beriman itu apabila mereka diseru kepada Alloh dan Rosul-Nya untuk menghukumi (mengadili) di antara mereka adalah, “Kami mendengar dan Kami taat”. Mereka itulah orang-orang yang beruntung”. (QS.An-Nur:51)

Dari dalil-dalil diatas, menunjukkan akan wajibnya seseorang untuk menerima dan membenarkan berita Alloh dan Rosul-Nya. Apabila terjadi perselisihan di antara kita, maka wajib untuk mengembalikan perkaranya kepada Alloh dan Rosul-Nya, yaitu kepada Kitabulloh dan Sunnah Rosululloh –shollallohu ‘alaihi wa sallam-.

Alloh –ta’ala-berfirman:

 

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

 

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Alloh dan taatilah Rosul (Nya) serta ulil amri (pemimpin) di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Alloh (Al-Quran) dan Rosul-Nya (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Alloh dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

 

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

 

“Maka demi Robb-mu, mereka tidaklah beriman hingga menjadikan kamu sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka suatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya”. (QS. An-Nisa’: 65)

Setiap muslim mengakui bahwa Nabi Muhammad –shollallohu ‘alaihi wa sallam-sebagai Rosululloh dan makna persaksian bahwa beliau sebagai Rosululloh sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab –rohimahulloh- dalam kitabnya Tsalatsatul Ushul adalah: “Taat terhadap apa yang beliau diperintahkan, membenarkan terhadap apa yang beliau khabarkan, menjauhi apa yang beliau larang dan supaya tidak beribadah, kecuali dengan apa yang disyariatkan”.

Seluruh makna yang disebutkan oleh Syaikh Muhammad –rohimahulloh-diatas semuanya berdasarkan dalil-dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Seseorang juga tidak boleh mendahulukan perkataan selain dari perkataan Alloh dan Rosul-Nya di atas perkataan Alloh dan Rosul-Nya.

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

 

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Alloh dan Rosul-Nya dan bertakwalah kepada Alloh. Sesungguhnya Alloh itu Sami’ (Maha Mendengar) lagi ‘Alim (Maha Mengetahui)”. (QS. Al-Hujurot:1)

Alloh –ta’ala-mengancam orang-orang yang menyelisihi perkara Alloh dan Rosul-Nya dengan ditimpakan kepadanya suatu fitnah dan siksaan yang pedih.

 

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

 

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih”. (QS. An-Nur: 63)

Setelah penyebutan semua dalil-dalil ini, apakah kita masih mendahulukan perkataan orang-orang kafir dan mengatakan bahwa perkataan mereka itu lebih sesuai dengan kenyataan?!

Siapa yang lebih mengetahui Alloh Al-’Alim Al-Khobir yang ilmu-Nya meliputi semua apa yang ada di langit dan di bumi dan apa yang ada diantara keduanya ataukah orang kafir yang tidak mengenal siapa pencipta langit dan bumi?!

Tidakkah kita takut apabila kita menolak dan mendustakan kalamulloh yang tidak ada keraguan di dalamnya dan kalam Rosululloh –shollallohu ‘alaihi wa sallam-yang tidaklah berucap melainkan wahyu yang diturunkan kepada-Nya dengan sebuah fitnah dan siksaan yang pedih?!

Wahai Saudaraku, berimanlah dengan semua yang dikabarkan Alloh dan Rosul-Nya serta yakinilah bahwa semua itu adalah kebenaran. Insyaalloh dengan demikian akan dibukakan bagi kita pemahaman dan dibukakan hati kita untuk menerimanya. Hal ini merupakan sebuah kaedah yang disebutkan oleh Syaikh Ibnu ‘Utsaimin –rohimahulloh- dalam kitab Syarhul Aqidah Al-Washitiyah, hal. 289-290. Kaedah tersebut berbunyi: “Berimanlah kamu, maka engkau akan mendapatkan petunjuk”. Siapa yang tidak beriman dengan ayat-ayat Alloh, maka ia tidak akan mendapatkan petunjuk; sehingga ia tetap buta dari kandungan Al-Qur’an dan tidak mampu untuk mengambil hidayah darinya. Kita memohon kepada Alloh untuk memberikan hidayah-Nya untuk kita semua. Amin

Dalil dari kaedah ini adalah firman Alloh–ta’ala-:

 

وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

 

“Barangsiapa yang beriman kepada Alloh, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya dan Alloh itu ‘Alim (Maha Mengetahui) atas segala sesuatu”. (QS.At-Taghobun:11)

 

إن الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِ اللهِ لَا يَهْدِيهِمُ اللهُ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ * إِنَّمَا يَفْتَرِي الْكَذِبَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِ اللهِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْكَاذِبُونَ

 

“Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Alloh (Al-Quran), maka Alloh tidak akan memberi petunjuk kepada mereka dan bagi mereka azab yang pedih.Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan itu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Alloh dan mereka itulah orang-orang pendusta”. (QS.An-Nahl:104-105)

Maka saya menyeru kepada semua kaum muslimin, tatkala datang kepadanya sebuah ayat Al-Qur’an, untuk menerimanya dengan penuh ketaatan tanpa keraguan atau berat hati. Jikalau bukan kita kaum muslimin, maka siapa lagi yang akan menerima dan mengamalkan Al-Qur’an itu? Bukankah Al-Qur’an itu diturunkan untuk  diamalkan? Mengapa hati kita tidak bisa mengambil petunjuk darinya,sedang orang kafir sendiri bisa mendapatkan hidayah hanya karena mendengar lantunan ayat Al-Qur’an sebagaimana kisah Jubair bin Muth’im -rodhiyallohu ‘anhu- (ketika masih kafir) tatkala mendengar Rosululloh –shollallohu ‘alaihi wa sallam- membaca surat At-Thur pada sholat Maghrib. Beliau -rodhiyallohu ‘anhu- mengatakan, “Seakan-akan hatiku terbang…” Maka sejak saat itu, Alloh memberikan hidayah kepadanya dan masuklah ia ke dalam Islam.

Sekeras apa hati kita, sampai kita mendustakan ayat-ayat Al-Qur’an??!

Padahal jin saja, yang sifat kejelekan dikalangan mereka lebih banyak daripada manusia, tetapi tatkala salah satu dari mereka mendengar ayat Alloh, maka dia pun beriman dengannya sebagaimana yang Alloh –ta’ala-sebutkan dalam firman-Nya:

 

وَأَنَّا لَمَّا سَمِعْنَا الْهُدَى آمَنَّا بِهِ فَمَنْ يُؤْمِنْ بِرَبِّهِ فَلَا يَخَافُ بَخْسًا وَلَا رَهَقًا

 

“Sesungguhnya kami (para jin) tatkala mendengar petunjuk (Al-Quran), kami beriman kepadanya. Barangsiapa beriman kepada Robb-nya, maka ia tidak takut akan pengurangan pahala dan tidak (takut pula) akan penambahan dosa dan kesalahan”. (QS.Al-Jin: 13)

Wahai saudaraku, berimanlah sebelum datangnya penyesalan yang pada waktu itu tidak akan bermanfaat lagi keimanan dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Alloh meminta untuk dikembalikan lagi ke dunia untuk beramal dan beriman dengan ayat-ayat-Nya.

Alloh –subhanahu wata’ala- berfirman:

 

وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ فِي جَهَنَّمَ خَالِدُونَ * تَلْفَحُ وُجُوهَهُمُ النَّارُ وَهُمْ فِيهَا كَالِحُونَ *أَلَمْ تَكُنْ آيَاتِي تُتْلَى عَلَيْكُمْ فَكُنْتُمْ بِهَا تُكَذِّبُونَ * قَالُوا رَبَّنَا غَلَبَتْ عَلَيْنَا شِقْوَتُنَا وَكُنَّا قَوْمًا ضَالِّينَ * رَبَّنَا أَخْرِجْنَا مِنْهَا فَإِنْ عُدْنَا فَإِنَّا ظَالِمُونَ * قَالَ اخْسَئُوا فِيهَا وَلَا تُكَلِّمُونِ

 

“Barangsiapa yang ringan timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri.Mereka kekal di dalam neraka Jahannam. Muka mereka dibakar api neraka dan mereka di dalam neraka itu dalam keadaan cacat. Bukankah ayat-ayat-Ku telah dibacakan kepada kalian, tetapi kalian selalu mendustakannya? Mereka berkata: “Wahai Robb kami, kami telah dikuasai oleh kejahatan kami dan kamiadalah  orang-orang yang sesat.Wahai Robbkami, keluarkanlah kami darinya (dan kembalikanlah kami ke dunia), maka jika kami kembali (juga kepada kekafiran), maka sesungguhnya kami adalah orang-orang yang dzolim. Alloh berfirman: “Tinggallah dengan hina di dalamnya dan janganlah kalian berbicara dengan-Ku!” (QS. Al-Mukminun: 103-108)

 

وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ * وَاتَّبِعُوا أَحْسَنَ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ بَغْتَةً وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ * أَنْ تَقُولَ نَفْسٌ يَا حَسْرَتَا عَلَى مَا فَرَّطْتُ فِي جَنْبِ اللَّهِ وَإِنْ كُنْتُ لَمِنَ السَّاخِرِينَ *أَوْ تَقُولَ لَوْ أَنَّ اللَّهَ هَدَانِي لَكُنْتُ مِنَ الْمُتَّقِينَ * أَوْ تَقُولَ حِينَ تَرَى الْعَذَابَ لَوْ أَنَّ لِي كَرَّةً فَأَكُونَ مِنَ الْمُحْسِنِينَ * بَلَى قَدْ جَاءَتْكَ آيَاتِي فَكَذَّبْتَ بِهَا وَاسْتَكْبَرْتَ وَكُنْتَ مِنَ الْكَافِرِينَ * وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ تَرَى الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَى اللَّهِ وُجُوهُهُمْ مُسْوَدَّةٌ أَلَيْسَ فِي جَهَنَّمَ مَثْوًى لِلْمُتَكَبِّرِينَ

 

“Kembalilah kalian kepada Robb kalian dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang adzab kepada kalian, kemudian kalian tidak dapat ditolong (lagi). Ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepada kalian dari Robb kalian sebelum datang adzab kepada kalian dengan tiba-tiba, sedang kalian tidak menyadarinya. Supaya jangan ada orang yang mengatakan: “Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Alloh, sedang aku sesungguhnya termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan (agama Alloh)”. Atau supaya jangan ada yang berkata: “Kalau sekiranya Alloh memberi petunjuk kepadaku tentulah aku termasuk orang-orang yang bertakwa”. Atau supaya jangan ada yang berkata ketika ia melihat adzab: “Kalau sekiranya aku dapat kembali (ke dunia), niscaya aku akan termasuk orang-orang berbuat baik”. (Bukan demikian), sebenarnya telah datang ayat-ayat-Ku kepadamu lalu kamu mendustakannya dan kamu menyombongkan diri.Kamu adalah termasuk orang-orang yang kafir”. Pada hari kiamat kamu akan melihat orang-orang yang berbuat dusta terhadap Alloh, mukanya menjadi hitam. Bukankah dalam neraka Jahanam itu adalah tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri?!”

 

PERKATAAN PARA ULAMA TENTANG PERMASALAHAN INI

  1. 1. Syaikh Muhammad bin Ibrohim Alu Syaikh –rohimahulloh-.

Pertanyaan: “Telah ditetapkan pada tahun ini kurikulum geografi di‘Darut-Tauhid’. Mengingat karena kurikulum tersebut pada asalnya adalah materi agama saja, akan tetapi telah ditetapkan kurikulum tentang pemikiran mereka yang menyatakan bahwa bumi itu berputar sedang matahari tetap yang disertai dengan dalil-dalil yang tidak bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Akan tetapi hanya berdasarkan pikiran dan dugaan semata yang bertentangan dengan apa yang ada dalam Al-Qur’an seperti firman Alloh –ta’ala-yang berbunyi:

 

وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَهَا

 

Juga selain dari ayat ini sebagaimana tidak samar lagi bagi Anda. Lebih-lebih kami melihat para siswa, pikiran mereka lebih condong kepada pemikiran ini, yang tidak diragukan lagi bahwa hal ini mengurangi keimanan mereka … Sampai terjadi salah seorang siswa telah menulis di papan tulis sebuah kalimat: “Kabar penting bahwasanya bumi itu berputar!” Saya mengharapkan adanya faedah dari Anda”.

Jawaban: “Apa yang disebutkan oleh ahli Geografi adalah suatu kebatilan yang sangat dan menafikan terhadap ayat yang telah Antum sebutkan. Alhamdulilah, yang telah memberikan taufiq kepada kalian untuk mengingkari khayalan-khayalan yang batil seperti ini. Sungguh saya bergembira sekali dengan sikap Anda. Barokallohu fikum”. (Majmu’wa Rosail Muhammad bin Ibrohim Alu Syaikh: 98/13)

  1. 2. Syaikh Imam Abdul Aziz bin Abdillah bin Baaz –rohimahulloh-.

Beliau berkata dalam kitab ‘Syarh Kitab Tauhid’, hal. 202:

“Kaum muslimin (yaitu para ulamanya) bersepakat bahwasanya bumi itu tetap dan matahari berjalan … Orang-orang yang mengatakan dengan perputaran bumi disekitar matahari itu, mereka berusaha untuk mengajak kepada suatu pemikiran bahwa matahari itu diam dan ini adalah kekufuran.

 

وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَهَا ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيم

  1. 3. Syaikh Muhadits (Pakar Hadits) Muqbil bin Hadiy Al-Wadi’iy –rohimahulloh-

Pertanyaan:“Apa hukum orang yang mengatakan tentang perputaran bumi dan diamnya matahari?”

Jawaban:“Orang yang mengatakan bahwasanya matahari diam, makaia teranggap telah mendustakan Al-Qur’an, dikarenakan Alloh telah berfirman:

 

وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَهَا ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ

 

Kemudian kisah Dzulqornain, sebagaimana yang disebutkan Alloh dalam surat Al-Kahfi dan juga hadits Abu Dzar, Abu Huroiroh dan sejumlah sahabat yang berbunyi: “Bahwasanya matahari meminta izin dan tidak diizinkan baginya. Kemudian ia sujud di bawah ‘arsy dan ingin kembali dari arah timur, akan tetapi tidak diizinkan. Maka ia pun terbit dari arah barat. Hadits-hadits lain juga sangat banyak yang menunjukkan akan hal ini. Saya nasehatkan untuk membaca kitab Syaikh At-Tuwaijiriy –hafidzohulloh- yang berjudul:”Ash-Showa’iq As-Syadidah fir Rod ‘Ala Ahlil Haiatil Jadidah” dan juga pelengkapnya. Saya nasehatkan untuk membaca dua kitab ini.

Hal yang terpenting adalah kita bisa kokoh diatas Sunnah Rosululloh –shollallohu’alaihi wasallam-. Kemudian yang perlu untuk diketahui, bahwa musuh-musuh sunnah biasanya mereka mendatangkan dengan pertanyaan seperti ini dalamsebuah perkumpulan, sedang para pemuda itu patut dikasihani. Pikiran mereka telah kacau dan rusak. Diantara mereka ada yang mengatakan bahwa asal manusia itu dari kera. Ini adalah perkataan Darwin. Juga pikiran mereka telah kacau di sekolah-sekolah disebabkan karena guru-guru mereka mendatangkan hal-hal seperti ini di masyarakat dengan tujuan untuk melarikan dari Ahlussunnah … Siapa yang menerima Kitab dan Sunnah, maka dia tidak akan perduli dengan perkataan Darwin dan selainnya dari orang-orang yang mempunyai penyimpangan. Siapa yang goncang aqidahnya, maka dia ini adalah orang yang patut dikasihani. Setiap kali saya katakan, “Alloh telah berfirman seperti ini,” maka ia pun menjawab: “Mereka (orang-orang barat) telah berkata seperti itu”. Hal yang seperti ini hanyalah ikut-ikutan. (Ijabatus Sa’il ‘ala Ahammil Masail,hal. 384-385)

  1. 4. Syaikh Al-Faqih Muhammad bin Sholeh Al-’Utsaimin-rohimahulloh-

Pertanyaan:“Apakah matahari berputar mengelilingi bumi?”

Jawaban: “Dzohir dalil-dalil syar’iy menetapkan bahwa matahari itulah yang berputar mengelilingi       bumi dan dengan perputarannya tersebut, terjadilah pergantian malam dan siang. Tidak boleh bagi kita untuk melanggar dzohir dalil-dalil ini, kecuali dengan dalil lain yang lebih kuat yang membolehkan kita untuk memalingkan dalil tersebut dari dzohirnya”.

Kemudian beliau menyebutkan dalil-dalil yang menunjukkan akan berputarnya matahari mengelilingi bumi. (Fatawa Arkanul Islam,hal. 43)

  1. 5. Syaikh Al-’Allamah Sholeh bin Fauzan Al-Fauzan –hafidzohulloh-.

Beliau mengatakan dalam kitab Syarh Tsalatsatul Utsul: “Matahari adalah sebuah bintang yang besar, begitu juga bulan merupakan salah satu tujuh bintang yang berjalan. Masing-masing berjalan mengelilingi bumi. Sedangkan bumi itu tetap. Alloh menjadikannya tetap untuk kemaslahatan hamba-Nya. Sedangkan matahari dan seluruh … berputar mengelilinginya, tidak seperti yang dikatakan oleh orang-orang yang memprediksi pada zaman sekarang dari orang-orang yang mengaku mempunyai ilmu pengetahuan, mereka mengatakan bahwasanya matahari itu tetap dan bumi yang berputar mengelilinginya. Hal ini berbeda dengan apa yang ada dalam Al-Qur’an.

 

وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَهَا ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ

 

“Matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Al-’Aziz (yang Maha Perkasa) dan Al-’Alim (Maha Mengetahui)”. (QS.Yasin:38)

Sedang mereka mengatakan bahwa matahari itu tetap! Ya subhanalloh…!

  1. 6. Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah.

Pertanyaan: “Dalam sebuah pelajaran yang saya ajarkan menyebutkan bahwa bumi berputar mengelilingi matahari. Hanya saja saya mendengar dari Syaikh Abu Bakr Al-Jazairy bahwa mataharilah yang berputar mengelilingi bumi dan beliau mengatakan, “Siapa yang mengajarkan materi ini hendaknya takut kepada Alloh, sebab hal ini sangat berbahaya terhadap aqidahnya dan menyebabkan kafirnya seseorang. Kemudian saya menjelaskan hal ini kepada para siswa setelah pelajaran selesai. Apakah yang saya lakukan ini benar atau salah? Berikanlah faedah kepada saya, mudah-mudahan Alloh membalas kebaikan Anda sekalian”.

Jawaban: “Apa yang dikatakan oleh Syaikh Abu Bakr adalah benar, sebab bumi itu tetap dan mataharilah yang berputar mengelilingi bumi sebagaimana yang disebutkan oleh Alloh -’azza wa jalla- dalam firman-Nya:

 

اللهُ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ قَرَارًا

 

“Alloh-lah yang menjadikan bumi bagi kalian sebagai tempat menetap”. (QS. Ghofir: 64)

 

وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَهَا

 

“Matahari itu berjalan ditempat peredarannya”. (QS. Yasin: 38)

Alloh -ta’ala- juga berfirman tentang matahari dan bulan:

 

كُلٌّ يَجْرِي إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى

 

“Masing-masing berjalan sampai kepada waktu yang ditentukan”. (QS.Luqman:29)

Siapa yang mengatakan bahwa bumi itu yang berputar dan matahari itu tetap, maka dia telah mendustakan Al-Qur’an.Sedangkan mendustakan Al-Qur’an itu adalah sebuah kekafiran yang besar.Nas’alulloh al-’afiyah was-salamah, wabillahit-taufiq“.

Al-Lajnah Ad-Daimah untuk pembahasan ilmiyah dan fatwa.

Ketua: Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz.

Wakil ketua: Abdul Aziz Alu Syaikh.

Anggota : Sholeh Al-Fauzan.

Anggota: Bakr Abu Zaid.

  1. 7. Syaikh Yahya bin ‘Ali Al-Hajuriy –hafidzohulloh-.

Beliau mengatakan dalam kitabnya Ash-Shubhu Asy-Syariq,hal. 154-158, tatkala membantah Az-Zandaniy seorang tokoh Ikhwanul Muslimin yang meyakini aqidah ini, setelah menyebutkan teks dari perkataan Az-Zandaniy:

“Ini adalah ta’wil yang rusak dan takalluf (sikap memaksakan diri) yang terbantah dengan dalil-dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Benarlah Abu Muhammad Ibnu Hazm –rohimahulloh- tatkala mengatakan: “Alloh tidak akan menolong agamanya dengan seorang ahli bid’ah”. Az-Zandaniy membantah orang-orang yang mengatakan tetapnya matahari dan menta’wil ayat bahwa matahari berjalan disekitar dirinya saja dan pengakuannya bahwa Al-Qur’an menunjukkan akan adanya kebatilan dan pertentangan satu dengan yang lainnya. Semua itu hanyalah sikap taklid dan percaya terhadap mereka (orang-orang kafir)”.

Kemudian Syaikh Yahya –hafidzohulloh- menyebutkan dalil-dalil yang membantah keyakinan ini.

Kemudian beliau juga mengatakan dalam hal. 159: “Pembahasan masalah ini termasuk dalam bagian aqidah. Siapa yang meyakini bahwa bumi itu berputar, bergerak dan berjalan, maka wajib baginya untuk mencari dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Apabila tidak mendapatkan dalil, maka ia adalah orang yang mempunyai aqidah yang rusak, tidak bersandar diatas dalil”.

Apa yang telah lewat berupa ayat-ayat, hadits-hadits dan perkataan para ulama, cukup bagi orang yang Alloh inginkan baginya hidayah untuk melepaskan diri dari keyakinan yang rusak ini.

 

فَمَنْ يُرِدِ اللهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ كَذَلِكَ يَجْعَلُ اللهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ * وَهَذَا صِرَاطُ رَبِّكَ مُسْتَقِيمًا قَدْ فَصَّلْنَا الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَذَّكَّرُونَ

 

“Barangsiapa yang Alloh kehendaki untuk memberikan petunjuk kepadanya, niscaya Dia melapangkan dadanya kepada agama Islam. Dan barangsiapa yang  Alloh kehendaki padanya kesesatan, niscaya Alloh akan menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Alloh menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman. Inilah jalan Robb-mu yang lurus. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan ayat-ayat (Kami) kepada orang-orang yang mengambil pelajaran”. (QS. Al-An’am: 125-126)

Mudah-mudahan Alloh memberikan hidayah-Nya kepada kita semua,amin.

Adapun yang masih ragu dan tidak terima dengan apa yang dikabarkan Alloh dan Rosul-Nya, maka hidayah itu hanyalah di tangan Alloh. Mudah-mudahan Alloh menghindarkan kaum muslimin dari kejelekan hawa nafsunya. Hal yang terpenting adalah telah sampai kepadanya hujjah.

 

لِيَهْلِكَ مَنْ هَلَكَ عَنْ بَيِّنَةٍ وَيَحْيَى مَنْ حَيَّ عَنْ بَيِّنَةٍ وَإِنَّ اللهَ لَسَمِيعٌ عَلِيم

 

“Yaitu agar orang yang binasa itu, binasa dengan keterangan yang nyata dan orang yang hidup itu hidup dengan keterangan yang nyata (pula). Sesungguhnya Alloh Sami’ (Maha Mendengar) lagi ‘Alim (Maha Mengetahui)”. (QS.Al-Anfal:42)

 

PENERANG BAGI HATI YANG MASIH BIMBANG

 

Sebagian orang yang mempunyai keyakinan ini berdalil dengan firman Alloh –ta’ala-:

 

وَتَرَى الْجِبَالَ تَحْسَبُهَا جَامِدَةً وَهِيَ تَمُرُّ مَرَّ السَّحَابِ صُنْعَ اللهِ الَّذِي أَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍ إِنَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَفْعَلُون

 

“Kamu lihat gunung-gunung itu yang kau sangka ia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagaimana jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Alloh yang membuat dengan kokoh segala sesuatu. Sesungguhnya Alloh itu Khobir (Maha Mengetahui) apa yang kalian kerjakan”. (QS.An-Naml:87-88)

Dengan ayat ini mereka berdalil akan bergeraknya bumi, akan tetapi tidak ada dalam ayat ini yang menunjukkan akan hal tersebut, sebab hal ini terjadi pada hari kiamat tatkala alam semesta ini dihancurkan. Apa yang ada di bumi beterbangan seperti kapas yang ditiup angin. Adapun sebelum hari kiamat, maka bumi dan gunung tak bergerak, kecuali apabila terjadi gempa bumi. Hal ini menjadi jelas dengan melihat konteks ayat sebelumnya:

 

وَيَوْمَ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ فَفَزِعَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللهُ وَكُلٌّ أَتَوْهُ دَاخِرِينَ * وَتَرَى الْجِبَالَ تَحْسَبُهَا جَامِدَةً وَهِيَ تَمُرُّ مَرَّ السَّحَابِ صُنْعَ اللهِ الَّذِي أَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍ إِنَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَفْعَلُونَ

 

“Ingatlah hari ketika ditiupnya sangkakala, maka terkejutlah segala yang di langit dan  di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki oleh Alloh. Mereka semua datang menghadap-Nya dengan merendahkan diri. Demikian pula kamu lihat gunung-gunung yang kamu sangka tetap di tempatnya itu, padahal ia berjalan sebagaimana jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Alloh yang membuat dengan kokoh segala sesuatu.Sesungguhnya Alloh itu Khobir (Maha Mengetahui)atas apa yang kamu kerjakan”. (QS. An-Naml: 87-88)

Sebagaimana pula Alloh –ta’ala-menyebutkan dalam ayat yang lain:

 

الْقَارِعَةُ* مَا الْقَارِعَةُ * وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْقَارِعَةُ * يَوْمَ يَكُونُ النَّاسُ كَالْفَرَاشِ الْمَبْثُوثِ * وَتَكُونُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِ الْمَنْفُوشِ

 

“Hari kiamat.Apakah hari kiamat itu? Tahukah kamu, apakah hari kiamat itu? Pada hari itu manusia seperti anai-anai yang bertebaran. Gunung-gunung seperti bulu domba yang dihambur-hamburkan”. (QS. Al-Qori’ah: 1-5)

 

وَيَوْمَ نُسَيِّرُ الْجِبَالَ وَتَرَى الْأَرْضَ بَارِزَةً وَحَشَرْنَاهُمْ فَلَمْ نُغَادِرْ مِنْهُمْ أَحَدًا

 

“Ingatlah akan hari yang ketika itu Kami perjalankan gunung-gunung. Kamu akan melihat bumi itu datar dan Kami kumpulkan seluruh manusia. Tidak Kami tinggalkan seorangpun dari mereka”. (QS. Al-Kahfi: 47)

 

إِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ * وَإِذَا النُّجُومُ انْكَدَرَتْ * وَإِذَا الْجِبَالُ سُيِّرَتْ * وَإِذَا الْعِشَارُ عُطِّلَتْ

 

“Apabila matahari digulung. Apabila bintang-bintang berjatuhan. Apabila gunung-gunung dihancurkan. Apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak diperdulikan)”. (QS. At-Takwir: 1-4)

Masih banyak ayat-ayat lain yang semakna dengannya. Hal ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an itu benar dan saling menguatkan satu dengan yang lain dan tidak  mungkin Al-Qur’an itu menunjukkan kebatilan atau menguatkannya, kecuali oleh orang-orang yang menyalah-gunakannya untuk kebatilan dari orang-orang yang tidak menuntut ilmu dan berguru dengan Ahlussunnah, sehingga dengan seenaknya sendiri mengambil ayat tanpa mengetahui makna serta kandungannya, apalagi tafsir dan sisi pendalilannya. Oleh karena itu, tidak heran apabila pendalilan mereka justru dipakai untuk membantah diri mereka sendiri.Wallohul Musta’an.

Ayat lain yang dipakai oleh mereka adalah firman Alloh –ta’ala-:

 

كُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ

 

“Masing-masing dari keduanya itu beredar dalam garis edarnya”. (QS. Al-Anbiya’: 33)

Sisi pendalilan mereka bahwa ayat ini mencakup matahari, bulan, bumi dan semua bintang-bintang yang berjalan.

Jawaban:

Ayat ini dalam Al-Qur’an terdapat pada dua tempat, dalam surat Al-Anbiya’ ayat 33 dan surat Yasin ayat 40.

 

وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ

 

“Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan, masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya”. (QS. Al-Anbiya’: 33)

 

لَا الشَّمْسُ يَنْبَغِي لَهَا أَنْ تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا اللَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ

 

“Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya”. (QS. Yasin: 40)

Tidak ada satu pun pada dua ayat di atas penyebutan tentang bumi, akan tetapi kedua ayat tersebut berkaitan dengan matahari dan bulan, yang masing-masing dari keduanya berjalan digaris peredarannya, sehingga ayat ini hanyalah menunjukkan perjalanan matahari dan bulan. Lagi-lagi dalil ini justru membantah diri mereka sendiri.

 

فَاعْتَبِرُوا يَا أُولِي الْأَبْصَارِ

 

“Maka ambillah (hal itu) sebagai pelajaran, wahai orang-orang yang mempunyai wawasan”. (QS. Al-Hasyr: 2)

Kebanyakan dari orang-orang yang berkeyakinan seperti ini tidaklah terbetik dalam pikiran mereka kalau mereka mempunyai pendalilan dari Al-Qur’an. Hal itu karena kebanyakan mereka mendapatkan keyakinan ini di sekolah-sekolah dengan bermodalkan sikap taklid semata dan langsung percaya dengan teori-teori orang-orang kafir yang mereka kagumi keilmuannya.

Dengan demikian, masuklah keyakinan ini ke dalam hati mereka yang kosong dengan ilmu syar’i dan tertancaplah keyakinan itu dalam hati, sehingga sangat sulit untuk dihilangkan, meskipun orang-orang tersebut telah hadir dalam majelis-majelis ilmu, kecuali orang-orang yang dirahmati oleh Alloh. Sehingga tidak heran tatkala disampaikan kepadanya akan kebatilan hal ini, sebagian mereka membela mati-matian akan keyakinan ini, sebagaimana dalam sebuah syair Arab:

 

أتاني هواها قبل أن أعرف الهوى                      فصادف قلبا خاليا فتمكنا

 

“Datang kepadaku cintanya sebelum aku mengenal akan sebuah cinta

Masuklah ia ke dalam hati yang kosong maka ia pun menetap di sana”.

Mudah-mudahan Alloh memberikan hidayah kepadanya untuk menerima kebenaran dengan hati lapang.

Ada juga sebagian dari mereka yang mengatakan bahwa para ulama tidak mengetahui perkara-perkara dunia dan berdalil dengan hadits yang berbunyi:

 

أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ

 

“Kalian lebih tahu tentang perkara duniamu”. (Al-Hadits)

Jawaban:

Perlu untuk diketahui bahwasanya perkara ini berkaitan dengan permasalahan aqidah,sebab Alloh dan Rosul-Nya telah mengabarkan kepada kita tentang hal ini.Maka tidaklah benar kalau permasalahan ini dikatakan perkara dunia. Perkara ini adalah perkara aqidah yang sangat penting bagi seorang muslim. Apakah kita akan menolak pengkabaran Alloh dan Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam-hanya karena berdalil dengan hadits ini? Apakah Alloh-ta’ala-juga tidak mengetahui perkara dunia, sedangkan Dia-lah yang telah menciptakan semua yang ada didunia ini!

Apa saja yang telah datang nashnya dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, wajib untuk diterima baik dalam permasalahan dunia maupun akhirat. Menolak ayat atau hadits yang shohih merupakan kekufuran dan telah berlalu penyebutan hal tersebut dengan dalil-dalilnya. Maka sangat mengherankan kalau hadits Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wa sallam- dipakai untuk pendalilan terhadap kekufuran!

Permasalahannya bukanlah dengan para ulama saja. Kita tidak mengambil keyakinan ini semata-mata dari perkataan para ulama! Kita dan para ulama mengambil keyakinan ini dari Alloh dan Rosul-Nya, sehingga jangan dipahami bahwa para ulama yang mencetuskan keyakinan ini. Keyakinan ini bersumber dari Alloh dan Rosul-Nya, tidak ada campur tangan dari para ulama sedikitpun. Mereka hanya menyampaikan dan menjelaskan kepada umat kandungan dari ayat-ayat Al-Quran dan hadits-hadits Rosululloh –shollallohu ‘alaihi wa sallam-.

Mudah-mudahan penjelasan ini bisa memperbaiki kesalah-pahaman orang yang menyangka bahwa keyakinan ini bersumber dari para ulama, walhamdulillah.

Termasuk dari perkara yang membuat bimbang adalah perkataan sebagian orang, “Bagaimana matahari tenggelam dan sujud di bawah ‘arsy, sedangkan di negara lain masih terang bersinar dan di tempat lain baru terbit?”

Untuk menghilangkan kebimbangan ini, kami nukilkan perkataan Syaikh Muhammad Nashirudin Al-Albaniy -rohimahulloh- tatkala ditanya tentang hal ini. Inti pertanyaan yang diajukan kepada beliau tentang hadits yang mengatakan bahwa setiap hari matahari meminta izin dan bersujud di bawah ‘arsy.

Beliau –rohimahulloh- menjawab: “Hadits ini shohih dan perginya ia ke bawah ‘arsy tidaklah bertentangan dengan hakekat syar’iyyah, sebab matahari itu terus-menerus dibawah ‘arsy. Akan tetapi sujudnya itu dinisbatkan kepada negeri tertentu yaitu Madinah, sebab Rosululloh –shollallohu ‘alaihi wa sallam-berbicara di sana ketika berkata kepada Abu Dzar –rodhiyallohu ‘anhu-: “Tahukah kamu kemana perginya matahari itu?” Maka Rosululloh –shollallohu ‘alaihi wa sallam- mengabarkan bahwasanya ia pergi dan bersujud di bawah ‘arsy ketika waktu tenggelamnya bila dinisbatkan ke kota Madinah. Makna inilah yang dapat menghilangkan kebingungan, … sehingga yang dimaksud adalah terbenamnya matahari ketika di kota Madinah. Maka sujudnya adalah waktu yang sesuai dengan waktu terbenamnya di kota tersebut dan bukan di semua tempat di dunia ini.

 

Pertanyaan: Apakah dipahami dari hadits ini bahwa matahari itu berhenti ketika sujud?

 

Jawaban: Tidaklah hal itu merupakan suatu keharusan, dikarenakan manusia yang lemah saja dapat bersujud bersamaan dengan itu pula dia berjalan, benar atau tidak? Kita contohkan misalnya pada sholat khouf (sholat yang dilakukan dalam medan peperangan) ada dua bentuk: pertama, dalam keadaan tidak berhadapan dengan musuh dan yang kedua dalam keadaan berkecamuknya peperangan. Dalam keadaan yang seperti ini mereka mengerjakan sholat tanpa adanya gerakan ruku dan sujud sebagaimana yang kita ketahui, akan tetapi hanyalah melakukan isyarat dengan kepala. Jadi seorang muslim ketika berperang menghadapi orang-orang kafir kemudian datang waktu sholat, maka ia mengerjakan sholat dalam keadaan berjalan menyerang musuh. Hal yang seperti ini saja dapat terjadi pada manusia biasa, maka  lebih mungkin lagi untuk terjadi pada bintang-bintang seperti matahari. Robb kita lebih tahu akan hakekat (sujudnya matahari yang sebenarnya). Jadi,hal ini tidaklah bertentangan antara sujud dengan berjalannya”. (Al-Fatawa Al-Kuwaitiyyah, hal. 53-54,cet. Dar Adh-Dhiya’)

Perkataan Syaikh Al-Albaniy-rohimahulloh- tersebut menunjukkan bahwa perkara-perkara ghaib itu tidak kita ketahui hakekatnya. Yang wajib bagi kita adalah beriman dengan hal tersebut tanpa menggambar-gambarkan hakekatnya, sebab hanya Alloh-ta’ala- sajalah yang mengetahui hakekatnya. Dan tidaklah  menjadi suatu keharusan bahwa sujudnya matahari itu sama seperti sujudnya manusia. Hanya Alloh sajalah yang tahu bagaimana hakekat sujudnya, sebagaimana Alloh -ta’ala- mengabarkan tentang sujudnya bintang-bintang dan pepohonan.

 

وَالنَّجْمُ وَالشَّجَرُ يَسْجُدَانِ

 

“Bintang dan pohon-pohonan, keduanya sujud kepada-Nya”. (QS. Ar-Rohman: 6)

 

تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا

 

“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Alloh.Tak ada sesuatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Halim (Maha Penyantun) lagi Ghofur (Maha Pengampun)”. (QS. Al-Isro’: 44)

Mudah-mudahan dengan penjelasan ini hilanglah kebimbangan yang masih ada di dalam hati, dan kita memohon kepada Alloh -ta’ala-untuk menghilangkan segala macam penyimpangan yang terjadi di kalangan kaum muslimin dan memberikan hidayah-Nya kepada kita semua.

 

FAEDAH: APAKAH BUMI ITU BULAT?

 

Dalam permasalahan ini tidak didapatkan nash yang shorih (jelas), baik dari Al-Qur’an maupun As-Sunnah. Oleh karena itu, para ulama Ahlussunnah berbeda pendapat dalam masalah ini. Ada yang mengatakan bahwa bumi itu bulat dan ada yang mengatakan berbentuk hamparan.Hanya saja mereka tidak saling menyalahkan dan menyesatkan satu dengan yang lainnya. Sehingga bisa disimpulkan bahwa permasalahan ini adalah suatu permasalahan yang luas, tidak perlu untuk diperselisihkan. Permasalahan ini kami sebutkan sebagai tambahan faedah buat kita dikarenakan adanya keterkaitan dengan pembahasan kita ini.

 

PENUTUP

 

Mudah-mudahan dengan pembahasan ini Alloh –ta’ala-memberikan taufiq-Nya kepada kita semua untuk menerima kebenaran dan menghilangkan berbagai macam penyimpangan yang membahayakan aqidah kita. Dan kita meyakini bahwa apa yang disebutkan oleh orang-orang kafir dalam permasalahan ini merupakan suatu kedustaan dikarenakan bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah. Semua ilmu yang menyelisihi Kitab dan Sunnah adalah kebathilan. Dari sini kita bisa melihat akan pentingnya ilmu syariat bagi seorang muslim, sebab dengannya seseorang bisa mengetahui aqidah yang benar dan yang salah, sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ahmad-rohimahulloh-: “Kebutuhan manusia terhadap ilmu itu melebihi kebutuhannya terhadap makan dan minum. Makanan dan minuman itu ia butuhkan dua atau tiga kali saja dalam sehari, akan tetapi ilmu itu dibutuhkan sejumlah nafasnya”.

Oleh karena itu,sepatutnya kita melaksanakan apa yang selalu dinasehatkan oleh para ulama kita yaitu hendaknya kita tidak diharomkan dari ilmu dan agar mencurahkan waktu kita untuk menuntut ilmu. Kita memohon kepada Alloh agar tidak memalingkan kita dari ilmu syariat tersebut.

 

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك

Tidak ada komentar:

Posting Komentar