KESEPAKATAN KAUM MUSLIMIN DALAM PERMASALAHAN INI
Abdul Qodir Al-Baghdadiy –rohimahulloh- mengatakan: “Mereka (ulama kaum muslimin) bersepakat akan tetapnya bumi. Adapun pergerakannya terjadi karena adanya sesuatu yang muncul, seperti adanya gempa bumi dan yang semisalnya”. (Al-Firoq Bainal Firoq,hal.318)
Imam Al-Qurthuby –rohimahulloh- berkata: “Yang diyakini oleh kaum muslimin dan Ahli Kitab (Yahudi & Nashrani) bahwa bumi itu tetap diam, tak berjalan dan dihamparkan. Adapun pergerakannya biasanya disebabkan adanya gempa bumi”.
Imam At-Tuwaijiry –rohimahulloh- berkata: “Hal ini sangat jelas untuk menyatakan ijma’ dari kaum muslimin dan ahli kitab akan tetapnya bumi”. (As-Showa’iqus Syadidah,hal. 54)
WAJIBNYA MENERIMA DAN BERIMAN DENGAN BERITA ALLOH DAN ROSULNYA
Alloh –ta’ala- berfirman:
وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللهِ قِيلًا
“Siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Alloh?!” (QS.An-Nisa:122)
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا
“Tidaklah pantas bagi seorang mukmin dan mukminah, apabila Alloh dan Rosul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, masih ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Barangsiapa mendurhakai Alloh dan Rosul-Nya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dengan kesesatan yang nyata”. (QS.Al-Ahzab:36)
إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Sesungguhnya perkataan orang-orang yang beriman itu apabila mereka diseru kepada Alloh dan Rosul-Nya untuk menghukumi (mengadili) di antara mereka adalah, “Kami mendengar dan Kami taat”. Mereka itulah orang-orang yang beruntung”. (QS.An-Nur:51)
Dari dalil-dalil diatas, menunjukkan akan wajibnya seseorang untuk menerima dan membenarkan berita Alloh dan Rosul-Nya. Apabila terjadi perselisihan di antara kita, maka wajib untuk mengembalikan perkaranya kepada Alloh dan Rosul-Nya, yaitu kepada Kitabulloh dan Sunnah Rosululloh –shollallohu ‘alaihi wa sallam-.
Alloh –ta’ala-berfirman:
فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Alloh dan taatilah Rosul (Nya) serta ulil amri (pemimpin) di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Alloh (Al-Quran) dan Rosul-Nya (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Alloh dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Maka demi Robb-mu, mereka tidaklah beriman hingga menjadikan kamu sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka suatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya”. (QS. An-Nisa’: 65)
Setiap muslim mengakui bahwa Nabi Muhammad –shollallohu ‘alaihi wa sallam-sebagai Rosululloh dan makna persaksian bahwa beliau sebagai Rosululloh sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab –rohimahulloh- dalam kitabnya Tsalatsatul Ushul adalah: “Taat terhadap apa yang beliau diperintahkan, membenarkan terhadap apa yang beliau khabarkan, menjauhi apa yang beliau larang dan supaya tidak beribadah, kecuali dengan apa yang disyariatkan”.
Seluruh makna yang disebutkan oleh Syaikh Muhammad –rohimahulloh-diatas semuanya berdasarkan dalil-dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Seseorang juga tidak boleh mendahulukan perkataan selain dari perkataan Alloh dan Rosul-Nya di atas perkataan Alloh dan Rosul-Nya.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Alloh dan Rosul-Nya dan bertakwalah kepada Alloh. Sesungguhnya Alloh itu Sami’ (Maha Mendengar) lagi ‘Alim (Maha Mengetahui)”. (QS. Al-Hujurot:1)
Alloh –ta’ala-mengancam orang-orang yang menyelisihi perkara Alloh dan Rosul-Nya dengan ditimpakan kepadanya suatu fitnah dan siksaan yang pedih.
فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih”. (QS. An-Nur: 63)
Setelah penyebutan semua dalil-dalil ini, apakah kita masih mendahulukan perkataan orang-orang kafir dan mengatakan bahwa perkataan mereka itu lebih sesuai dengan kenyataan?!
Siapa yang lebih mengetahui Alloh Al-’Alim Al-Khobir yang ilmu-Nya meliputi semua apa yang ada di langit dan di bumi dan apa yang ada diantara keduanya ataukah orang kafir yang tidak mengenal siapa pencipta langit dan bumi?!
Tidakkah kita takut apabila kita menolak dan mendustakan kalamulloh yang tidak ada keraguan di dalamnya dan kalam Rosululloh –shollallohu ‘alaihi wa sallam-yang tidaklah berucap melainkan wahyu yang diturunkan kepada-Nya dengan sebuah fitnah dan siksaan yang pedih?!
Wahai Saudaraku, berimanlah dengan semua yang dikabarkan Alloh dan Rosul-Nya serta yakinilah bahwa semua itu adalah kebenaran. Insyaalloh dengan demikian akan dibukakan bagi kita pemahaman dan dibukakan hati kita untuk menerimanya. Hal ini merupakan sebuah kaedah yang disebutkan oleh Syaikh Ibnu ‘Utsaimin –rohimahulloh- dalam kitab Syarhul Aqidah Al-Washitiyah, hal. 289-290. Kaedah tersebut berbunyi: “Berimanlah kamu, maka engkau akan mendapatkan petunjuk”. Siapa yang tidak beriman dengan ayat-ayat Alloh, maka ia tidak akan mendapatkan petunjuk; sehingga ia tetap buta dari kandungan Al-Qur’an dan tidak mampu untuk mengambil hidayah darinya. Kita memohon kepada Alloh untuk memberikan hidayah-Nya untuk kita semua. Amin
Dalil dari kaedah ini adalah firman Alloh–ta’ala-:
وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
“Barangsiapa yang beriman kepada Alloh, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya dan Alloh itu ‘Alim (Maha Mengetahui) atas segala sesuatu”. (QS.At-Taghobun:11)
إن الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِ اللهِ لَا يَهْدِيهِمُ اللهُ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ * إِنَّمَا يَفْتَرِي الْكَذِبَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِ اللهِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْكَاذِبُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Alloh (Al-Quran), maka Alloh tidak akan memberi petunjuk kepada mereka dan bagi mereka azab yang pedih.Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan itu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Alloh dan mereka itulah orang-orang pendusta”. (QS.An-Nahl:104-105)
Maka saya menyeru kepada semua kaum muslimin, tatkala datang kepadanya sebuah ayat Al-Qur’an, untuk menerimanya dengan penuh ketaatan tanpa keraguan atau berat hati. Jikalau bukan kita kaum muslimin, maka siapa lagi yang akan menerima dan mengamalkan Al-Qur’an itu? Bukankah Al-Qur’an itu diturunkan untuk diamalkan? Mengapa hati kita tidak bisa mengambil petunjuk darinya,sedang orang kafir sendiri bisa mendapatkan hidayah hanya karena mendengar lantunan ayat Al-Qur’an sebagaimana kisah Jubair bin Muth’im -rodhiyallohu ‘anhu- (ketika masih kafir) tatkala mendengar Rosululloh –shollallohu ‘alaihi wa sallam- membaca surat At-Thur pada sholat Maghrib. Beliau -rodhiyallohu ‘anhu- mengatakan, “Seakan-akan hatiku terbang…” Maka sejak saat itu, Alloh memberikan hidayah kepadanya dan masuklah ia ke dalam Islam.
Sekeras apa hati kita, sampai kita mendustakan ayat-ayat Al-Qur’an??!
Padahal jin saja, yang sifat kejelekan dikalangan mereka lebih banyak daripada manusia, tetapi tatkala salah satu dari mereka mendengar ayat Alloh, maka dia pun beriman dengannya sebagaimana yang Alloh –ta’ala-sebutkan dalam firman-Nya:
وَأَنَّا لَمَّا سَمِعْنَا الْهُدَى آمَنَّا بِهِ فَمَنْ يُؤْمِنْ بِرَبِّهِ فَلَا يَخَافُ بَخْسًا وَلَا رَهَقًا
“Sesungguhnya kami (para jin) tatkala mendengar petunjuk (Al-Quran), kami beriman kepadanya. Barangsiapa beriman kepada Robb-nya, maka ia tidak takut akan pengurangan pahala dan tidak (takut pula) akan penambahan dosa dan kesalahan”. (QS.Al-Jin: 13)
Wahai saudaraku, berimanlah sebelum datangnya penyesalan yang pada waktu itu tidak akan bermanfaat lagi keimanan dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Alloh meminta untuk dikembalikan lagi ke dunia untuk beramal dan beriman dengan ayat-ayat-Nya.
Alloh –subhanahu wata’ala- berfirman:
وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ فِي جَهَنَّمَ خَالِدُونَ * تَلْفَحُ وُجُوهَهُمُ النَّارُ وَهُمْ فِيهَا كَالِحُونَ *أَلَمْ تَكُنْ آيَاتِي تُتْلَى عَلَيْكُمْ فَكُنْتُمْ بِهَا تُكَذِّبُونَ * قَالُوا رَبَّنَا غَلَبَتْ عَلَيْنَا شِقْوَتُنَا وَكُنَّا قَوْمًا ضَالِّينَ * رَبَّنَا أَخْرِجْنَا مِنْهَا فَإِنْ عُدْنَا فَإِنَّا ظَالِمُونَ * قَالَ اخْسَئُوا فِيهَا وَلَا تُكَلِّمُونِ
“Barangsiapa yang ringan timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri.Mereka kekal di dalam neraka Jahannam. Muka mereka dibakar api neraka dan mereka di dalam neraka itu dalam keadaan cacat. Bukankah ayat-ayat-Ku telah dibacakan kepada kalian, tetapi kalian selalu mendustakannya? Mereka berkata: “Wahai Robb kami, kami telah dikuasai oleh kejahatan kami dan kamiadalah orang-orang yang sesat.Wahai Robbkami, keluarkanlah kami darinya (dan kembalikanlah kami ke dunia), maka jika kami kembali (juga kepada kekafiran), maka sesungguhnya kami adalah orang-orang yang dzolim. Alloh berfirman: “Tinggallah dengan hina di dalamnya dan janganlah kalian berbicara dengan-Ku!” (QS. Al-Mukminun: 103-108)
وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ * وَاتَّبِعُوا أَحْسَنَ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ بَغْتَةً وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ * أَنْ تَقُولَ نَفْسٌ يَا حَسْرَتَا عَلَى مَا فَرَّطْتُ فِي جَنْبِ اللَّهِ وَإِنْ كُنْتُ لَمِنَ السَّاخِرِينَ *أَوْ تَقُولَ لَوْ أَنَّ اللَّهَ هَدَانِي لَكُنْتُ مِنَ الْمُتَّقِينَ * أَوْ تَقُولَ حِينَ تَرَى الْعَذَابَ لَوْ أَنَّ لِي كَرَّةً فَأَكُونَ مِنَ الْمُحْسِنِينَ * بَلَى قَدْ جَاءَتْكَ آيَاتِي فَكَذَّبْتَ بِهَا وَاسْتَكْبَرْتَ وَكُنْتَ مِنَ الْكَافِرِينَ * وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ تَرَى الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَى اللَّهِ وُجُوهُهُمْ مُسْوَدَّةٌ أَلَيْسَ فِي جَهَنَّمَ مَثْوًى لِلْمُتَكَبِّرِينَ
“Kembalilah kalian kepada Robb kalian dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang adzab kepada kalian, kemudian kalian tidak dapat ditolong (lagi). Ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepada kalian dari Robb kalian sebelum datang adzab kepada kalian dengan tiba-tiba, sedang kalian tidak menyadarinya. Supaya jangan ada orang yang mengatakan: “Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Alloh, sedang aku sesungguhnya termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan (agama Alloh)”. Atau supaya jangan ada yang berkata: “Kalau sekiranya Alloh memberi petunjuk kepadaku tentulah aku termasuk orang-orang yang bertakwa”. Atau supaya jangan ada yang berkata ketika ia melihat adzab: “Kalau sekiranya aku dapat kembali (ke dunia), niscaya aku akan termasuk orang-orang berbuat baik”. (Bukan demikian), sebenarnya telah datang ayat-ayat-Ku kepadamu lalu kamu mendustakannya dan kamu menyombongkan diri.Kamu adalah termasuk orang-orang yang kafir”. Pada hari kiamat kamu akan melihat orang-orang yang berbuat dusta terhadap Alloh, mukanya menjadi hitam. Bukankah dalam neraka Jahanam itu adalah tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri?!”
PERKATAAN PARA ULAMA TENTANG PERMASALAHAN INI
1. Syaikh Muhammad bin Ibrohim Alu Syaikh –rohimahulloh-.
Pertanyaan: “Telah ditetapkan pada tahun ini kurikulum geografi di‘Darut-Tauhid’. Mengingat karena kurikulum tersebut pada asalnya adalah materi agama saja, akan tetapi telah ditetapkan kurikulum tentang pemikiran mereka yang menyatakan bahwa bumi itu berputar sedang matahari tetap yang disertai dengan dalil-dalil yang tidak bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Akan tetapi hanya berdasarkan pikiran dan dugaan semata yang bertentangan dengan apa yang ada dalam Al-Qur’an seperti firman Alloh –ta’ala-yang berbunyi:
وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَهَا
Juga selain dari ayat ini sebagaimana tidak samar lagi bagi Anda. Lebih-lebih kami melihat para siswa, pikiran mereka lebih condong kepada pemikiran ini, yang tidak diragukan lagi bahwa hal ini mengurangi keimanan mereka … Sampai terjadi salah seorang siswa telah menulis di papan tulis sebuah kalimat: “Kabar penting bahwasanya bumi itu berputar!” Saya mengharapkan adanya faedah dari Anda”.
Jawaban: “Apa yang disebutkan oleh ahli Geografi adalah suatu kebatilan yang sangat dan menafikan terhadap ayat yang telah Antum sebutkan. Alhamdulilah, yang telah memberikan taufiq kepada kalian untuk mengingkari khayalan-khayalan yang batil seperti ini. Sungguh saya bergembira sekali dengan sikap Anda. Barokallohu fikum”. (Majmu’wa Rosail Muhammad bin Ibrohim Alu Syaikh: 98/13)
2. Syaikh Imam Abdul Aziz bin Abdillah bin Baaz –rohimahulloh-.
Beliau berkata dalam kitab ‘Syarh Kitab Tauhid’, hal. 202:
“Kaum muslimin (yaitu para ulamanya) bersepakat bahwasanya bumi itu tetap dan matahari berjalan … Orang-orang yang mengatakan dengan perputaran bumi disekitar matahari itu, mereka berusaha untuk mengajak kepada suatu pemikiran bahwa matahari itu diam dan ini adalah kekufuran.
وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَهَا ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيم
3. Syaikh Muhadits (Pakar Hadits) Muqbil bin Hadiy Al-Wadi’iy –rohimahulloh-
Pertanyaan:“Apa hukum orang yang mengatakan tentang perputaran bumi dan diamnya matahari?”
Jawaban:“Orang yang mengatakan bahwasanya matahari diam, makaia teranggap telah mendustakan Al-Qur’an, dikarenakan Alloh telah berfirman:
وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَهَا ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ
Kemudian kisah Dzulqornain, sebagaimana yang disebutkan Alloh dalam surat Al-Kahfi dan juga hadits Abu Dzar, Abu Huroiroh dan sejumlah sahabat yang berbunyi: “Bahwasanya matahari meminta izin dan tidak diizinkan baginya. Kemudian ia sujud di bawah ‘arsy dan ingin kembali dari arah timur, akan tetapi tidak diizinkan. Maka ia pun terbit dari arah barat. Hadits-hadits lain juga sangat banyak yang menunjukkan akan hal ini. Saya nasehatkan untuk membaca kitab Syaikh At-Tuwaijiriy –hafidzohulloh- yang berjudul:”Ash-Showa’iq As-Syadidah fir Rod ‘Ala Ahlil Haiatil Jadidah” dan juga pelengkapnya. Saya nasehatkan untuk membaca dua kitab ini.
Hal yang terpenting adalah kita bisa kokoh diatas Sunnah Rosululloh –shollallohu’alaihi wasallam-. Kemudian yang perlu untuk diketahui, bahwa musuh-musuh sunnah biasanya mereka mendatangkan dengan pertanyaan seperti ini dalamsebuah perkumpulan, sedang para pemuda itu patut dikasihani. Pikiran mereka telah kacau dan rusak. Diantara mereka ada yang mengatakan bahwa asal manusia itu dari kera. Ini adalah perkataan Darwin. Juga pikiran mereka telah kacau di sekolah-sekolah disebabkan karena guru-guru mereka mendatangkan hal-hal seperti ini di masyarakat dengan tujuan untuk melarikan dari Ahlussunnah … Siapa yang menerima Kitab dan Sunnah, maka dia tidak akan perduli dengan perkataan Darwin dan selainnya dari orang-orang yang mempunyai penyimpangan. Siapa yang goncang aqidahnya, maka dia ini adalah orang yang patut dikasihani. Setiap kali saya katakan, “Alloh telah berfirman seperti ini,” maka ia pun menjawab: “Mereka (orang-orang barat) telah berkata seperti itu”. Hal yang seperti ini hanyalah ikut-ikutan. (Ijabatus Sa’il ‘ala Ahammil Masail,hal. 384-385)
4. Syaikh Al-Faqih Muhammad bin Sholeh Al-’Utsaimin-rohimahulloh-
Pertanyaan:“Apakah matahari berputar mengelilingi bumi?”
Jawaban: “Dzohir dalil-dalil syar’iy menetapkan bahwa matahari itulah yang berputar mengelilingi bumi dan dengan perputarannya tersebut, terjadilah pergantian malam dan siang. Tidak boleh bagi kita untuk melanggar dzohir dalil-dalil ini, kecuali dengan dalil lain yang lebih kuat yang membolehkan kita untuk memalingkan dalil tersebut dari dzohirnya”.
Kemudian beliau menyebutkan dalil-dalil yang menunjukkan akan berputarnya matahari mengelilingi bumi. (Fatawa Arkanul Islam,hal. 43)
5. Syaikh Al-’Allamah Sholeh bin Fauzan Al-Fauzan –hafidzohulloh-.
Beliau mengatakan dalam kitab Syarh Tsalatsatul Utsul: “Matahari adalah sebuah bintang yang besar, begitu juga bulan merupakan salah satu tujuh bintang yang berjalan. Masing-masing berjalan mengelilingi bumi. Sedangkan bumi itu tetap. Alloh menjadikannya tetap untuk kemaslahatan hamba-Nya. Sedangkan matahari dan seluruh … berputar mengelilinginya, tidak seperti yang dikatakan oleh orang-orang yang memprediksi pada zaman sekarang dari orang-orang yang mengaku mempunyai ilmu pengetahuan, mereka mengatakan bahwasanya matahari itu tetap dan bumi yang berputar mengelilinginya. Hal ini berbeda dengan apa yang ada dalam Al-Qur’an.
وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَهَا ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ
“Matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Al-’Aziz (yang Maha Perkasa) dan Al-’Alim (Maha Mengetahui)”. (QS.Yasin:38)
Sedang mereka mengatakan bahwa matahari itu tetap! Ya subhanalloh…!“
6. Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah.
Pertanyaan: “Dalam sebuah pelajaran yang saya ajarkan menyebutkan bahwa bumi berputar mengelilingi matahari. Hanya saja saya mendengar dari Syaikh Abu Bakr Al-Jazairy bahwa mataharilah yang berputar mengelilingi bumi dan beliau mengatakan, “Siapa yang mengajarkan materi ini hendaknya takut kepada Alloh, sebab hal ini sangat berbahaya terhadap aqidahnya dan menyebabkan kafirnya seseorang. Kemudian saya menjelaskan hal ini kepada para siswa setelah pelajaran selesai. Apakah yang saya lakukan ini benar atau salah? Berikanlah faedah kepada saya, mudah-mudahan Alloh membalas kebaikan Anda sekalian”.
Jawaban: “Apa yang dikatakan oleh Syaikh Abu Bakr adalah benar, sebab bumi itu tetap dan mataharilah yang berputar mengelilingi bumi sebagaimana yang disebutkan oleh Alloh -’azza wa jalla- dalam firman-Nya:
اللهُ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ قَرَارًا
“Alloh-lah yang menjadikan bumi bagi kalian sebagai tempat menetap”. (QS. Ghofir: 64)
وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَهَا
“Matahari itu berjalan ditempat peredarannya”. (QS. Yasin: 38)
Alloh -ta’ala- juga berfirman tentang matahari dan bulan:
كُلٌّ يَجْرِي إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى
“Masing-masing berjalan sampai kepada waktu yang ditentukan”. (QS.Luqman:29)
Siapa yang mengatakan bahwa bumi itu yang berputar dan matahari itu tetap, maka dia telah mendustakan Al-Qur’an.Sedangkan mendustakan Al-Qur’an itu adalah sebuah kekafiran yang besar.Nas’alulloh al-’afiyah was-salamah, wabillahit-taufiq“.
Al-Lajnah Ad-Daimah untuk pembahasan ilmiyah dan fatwa.
Ketua: Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz.
Wakil ketua: Abdul Aziz Alu Syaikh.
Anggota : Sholeh Al-Fauzan.
Anggota: Bakr Abu Zaid.
7. Syaikh Yahya bin ‘Ali Al-Hajuriy –hafidzohulloh-.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar